Catatan: ini artikel yang saya tulis tahun 1996 untuk papan majalah dinding Economica di FEUI. Waktu itu saya masih semester 5 . Artikel ini pernah saya kirim ke milis apakabar@indonesia.net; dulu ketika internet masih terbatas, ini jadi ruang diskusi 'subversif.' Ternyata arsip seluruh diksusi di era 90an itu tersimpan di server perpusatkaan Ohio University. Membaca lagi tulisan lama ini saya jadi teringat konteks politik Indonesia di pertengahan 1990an. Waktu itu Mega baru jadi ketua PDI dan sedang berusaha didongkel oleh Suharto (ujungnya adalah peristiwa 27 Juli): Tempo, Detik dan Editor baru dibredel, karir Habibie sedang naik, PSSI mengirim tim ke Liga Primavera Italia, dan sebagainya.
SEPAKBOLARIA KABINET
Sepakbola dan politik? Ya, ternyata dunia politik mirip sekali dengan permainan rakyat yang satu ini. Ada unsur kerjasama tim, ada unsur leadership, ada unsur jegal-menjegal, kelit-berkelit, aksi individu dan sebagainya. Kalau PSSI masih disibukkan dengan kegagalan tim Sea Games serta Liga Indonesianya, biarlah saya mencoba menggunakan sepakbola sebagai alat analisa politik.
Yang jelas, kalau diibaratkan sebuah kesebelasan, tim Kabinet Pembangunan VI ini belum menunjukkan sebuah tim yang solid dan padu (maaf, istilah ini sering digunakan oleh wartawan ketika menggambarkan tim Primavera dan Sea Games). Entah siapa pelatihnya, yang jelas pola permainan yang dipakai tidak jelas, sulit dibaca oleh orang. Total football atau catenaccio jelas bukan. Pola 4-3-3 bukan, 4-4-2, 8-1-1, 9-0-1, atau sekalian 10-0-0 juga bukan. Mungkin semacamnya pola 'kampung' yang tak jelas. Pokoknya pemain bikin gol, plus ada kiper yang tugasnya menahan gol. Perkaranya, semua kepingin bikin gol, tapi nggak ada yang mau jadi kiper. Apalagi tanpa ada kerjasama yang padu antara pemain dan antara lini. Jadinya ya, kacau...
Kemudian, kalau panggung politik Indonesia diibaratkan lapangannya, maka kesebelasan imajiner ini baru-baru sudah kebobolan. Pencetak gol pertamanya tak lain Megawati Soekarnoputri. Agaknya, Yogie SM yang kebetulan jadi libero kurang bisa membaca kerjasama antarta Mbak Mega dengan si Arus Bawah, sehingga terlambat menutup daerahnya.
Beberapa menit kemudian, Pak Yogie yang naik menyerang terjebak off-side ketika mengomentari soal pembangunan di kawasan Puncak. Untung hakim garis Solichin GP jeli dan cepat mengangkat bendera Kepres nomor sekian tahun sekian tentang aturan tata ruang di kawasan Puncak. Kemudian giliran Menpora Hayono Isman yang off-side. Kali ini ketika ia berkomentar soal ribut-ribut pembangunan lapangan golf. Ucapannya yang kemudian terkenal, lapangan golf sebagai indikator kesejahteraan, mengundang protes masyarakat di mana-mana. Dan agaknya Hayono memang suka sekali off-side. Beberapa menit kemudian kembali ia terjebak saat mengatakan, Liga Indonesia bisa dibubarkan tengah jalan kalau masih menimbulkan keonaran. Kali ini penjaga garis kedua, Agum Gumelar (perwira ABRI yang ketua bidang amatir PSSI ini) yang mengangkat benderanya.
Belum sempat menemukan pola permainan, gawang kesebelasan kita ini kembali jebol. Kali ini oleh KH Abdurrachman Wahid alias Gus Dur. Walaupun dikawal ketat oleh beberapa pemain belakang, namun Gus Dur masih dapat memanfaatkan peluang untuk dapat mencetak gol, sekaligus mempertahankan posisinya sebagai Ketua Umum PBNU. Gol ketiga kemudian ikut lahir, kali ini terjadi akibat bunuh diri Habibie. Maksudnya ingin mengamankan daerahnya dengan mendatangkan kapal perang eks-Jerman Timur, tetapi maksudnya tidak dapat dibaca oleh Mar'ie Muhammad.
Ketinggalan tiga gol ternyata membuat tim Kabinet Pembangunan VI bangkit. Dan hasilnya, Harmoko berhasil menyumbangkan sebuah gol, yang sangat kontroversial dan menimbulkan protes keras dari para pemain lawan, yakni para wartawan dari Tempo, DeTik dan Editor. Namun wasit tetap pada pendiriannya, dan gol Harmoko tetap disahkan. Belakangan para 'pemain' asal Tempo sempat berhasil membalas dengan mencetak dua gol melalui PTUN dan PT TUN. Namun sayangnya dua 'gol' tersebut belum sempat disahkan karena Harmoko masih meminta banding kepada wasit yang memimpin pertandingan.
Harmoko, yang juga Ketua Umum DPP Golkar, kembali mencetak gol. Kali ini kerjasamanya dengan Yogie SM berhasil menyumbangkan gol sekaligus membuat Bambang Warih Kusuma dikartumerahkan dari kursi DPR, karena telah beberapa kali melakukan pelanggaran.
Kerjasama tim yang kurang padu, hanya membuat peluang-peluang yang ada terbuang percuma. Kerjasama antara lini tengah dan depan yang kacau, menyebabkan sebuah peluang PP nomor 10 tahun 1994 tentang PMA tidak terselesaikan dengan baik. Akhirnya Harmoko, Tungky Aribowo, Sanyoto dan Mar'ie malah saling tuding. Mungkin karena pelatih menilai Mar'ie kurang berada dalam form bertanding yang malah merusak kerjasama yang harmonis, akhirnya ia ditarik ke luar lapangan. Sebuah serangan yang dibangun oleh Tungky dan Sanyoto kini berpeluang menghasilkan gol bagi dikabulkannya proteksi untuk Chandra Asri. Dan memang, dengan ditariknya Mar'ie, terlihat bahwa peluang yang ada semakin besar. Kerjasama yang padu diantara pemain yang karakternya terbiasa dengan bola-bola panjang juga tidak rusak karena Mar'ie cenderung memainkan bola-bola pendek, seperti gaya penyerang-penyerang kesebelasan Brasil.
Walaupun di mata banyak masyarakat Mar'ie adalah satu dari hanya sedikit 'pemain' yang berbakat dan 'bersih', namun agaknya tidak demikian bagi rekan-rekannya setim. Ia mungkin sulit bekerjasama dengan beberapa rekannya. Antara lain ketidaksekatanya dengan Habibie soal pembelian kapal perang eks Jertim, dimana ia sempat tidak mau membayarkan kapal yang telanjur 'diutangi' oleh Habibie. Juga waktu Habibie mengajukan kredit ekspor untuk pesawatnya, yang katanya bisa rugi kalau tidak mendapat kredit tersebut.
Berbicara soal Habibie, mungkin kita bisa menyamakan sepak terjangnya dengan Maradona, pemain yang di dalam maupun di luar lapangan selalu jadi berita. Habibie pun demikian, sebagai Menristek, sebagai pelopor dan ketua ICMI, sebagai direktur beberapa BUMN, polahnya selalu mengundang berita. Soal Habibienomicsnya, soal pesawat terbang, kapal lautnya, manuver politiknya melalui ICMI yang sebenarnya adalah organisasi cendekiawan, atau ketika ia berhasil 'merangkul' Ali Sadikin dkk dari Petisi 50. Beberapa tahun lalu media massa ibukota bahkan menggelari Habibie sebagai 'orang serba bisa'. Maksudnya, dia itu menteri yang merangkap ilmuwan, politisi, direktur beberapa perusahaan dan ketua beberapa lembaga, belakangan sempat masuk ke bidang ekonomi, bahkan berperan sebagai ulama. Mirip Maradona memang, yang bisa main di posisi bek, gelandang, libero, sayap ataupun penyerang.
Di pertengahan permainan, pemain belakang Joop Ave melakukan pelanggaran serius terhadap pemain lawan yang warga Selandia Baru keturunan Samoa. Joop Ave secara sengaja, dan terlihat oleh wasit, melakukan pelecehan terhadap pemain tersebut. Ia sempat berdalih bahwa yang dilakukan hanya sebatas sorong-sorongan serta memegang lutut, dan si pemain lawan juga terlihat menerima secara kekeluargaan. Namun menurut wasit, si pemain lawan justru mengerang-erang kesakitan di lapangan. Joop Ave menerima kartu kuning untuk pelanggaran ini.
Kalau di Eropa ada Eric Cantona dari Perancis yang terkenal punya tabiat buruk, memukul penonton, memaki wasit dan sebagainya. Maka di Kabinet ini ada nama Sarwono Kusumaatmadja, Menteri LH yang terpaksa ditegur 'pelatih' agar menjaga tabiatnya. Sarwono memang sempat beberapa kali kelewat vokal, yang dikritik justru timnya sendiri, Kabinet Pembangunan VI. Maka sang 'pelatih' memperingatkannya untuk tidak mengurusi hal-hal yang bukan posisinya.
Pernah mendengar dua pemain yang berposisi beda salah satunya ditarik keluar dan yang tinggal di lapangan bermain rangkap? Kalau dalam politik kita, hal itu terjadi ketika Departemen Perdagangan dan Perindustrian dilebur jadi Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Pemain yang 'ditarik' adalah mantan Menperdag SB (Billy) Joedono. Yang tinggal dan bermain rangkap adalah mantan menteri yang satu lagi, Tunky Ariwibowo. Berbagai analisa politik menyertai manuver sang 'pelatih' yang baru sekali ini terjadi, antara lain kaitannya dengan ICMI, terlalu 'lurusnya' karakter seorang Billy dan sebagainya. Namun toh pihak yang terkait berulangkali menegaskan bahwa keputusan ini adalah soal teknis dan efisiensi.
Kalau pemain sepakbola betulan kita sering mendengar ada yang dituduh terlibat suap, doping atau penggelapan pajak, maka di tim Kabinet ini ada 'pemain' yang tiba-tiba dituduh korupsi dan penyalahgunaan jabatan. Ia adalah Haryanto Dhanutirto, yang bermain sebagai 'pemain penghubung' (maksudnya Menteri Perhubungan). Berita ini jadi besar karena ada laporan yang 'bocor' (atau dibocorkan?) dari pembuatnya, Ketua Komisi Disiplin Pemain (Irjenbang) Kentot Harseno. Akhirnya? Haryanto dinyatakan tidak terbukti bersalahm dan oleh 'pelatih' ia hanya diminta introspeksi. Namun toh masalahnya tidak semudah penyelesaiannya. Berbuntut kemudian pada gugatan balik ke arah Harseno, perseteruan pro-kontra ICMI, dan berkembang menjadi teori konspirasi. Tapiyang jelas banyak pihak yang menilai, sebagai 'pemain penghubung' Haryanto tidak mampu menjaga 'lini'-nya dengan baik. Mulai dari kasus KA Citayam, kecelakaan pesawat yang terjadi beberapa kali, Metromini maut sampai feri tenggelam. Namun 'pelatih' agaknya masih ingin mempertahankan 'pemain' yang satu ini.
Pertandingan masih tersisa beberapa menit. Masih banyak kejadian yang bisaterjadi.
Thursday, November 13, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
Artikel yang sangat menarik.
Post a Comment