Di bagian pembukaan, laporan itu menyajikan sebuah fakta: antara 1993-2003, terjadi pertumbuhan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Asia, dari US$73 menjadi US$111. Di saat yang sama, terjadi peningkatan indeks Theil -- sebuah pengukuran kesenjangan -- dari 0.37 menjadi 0.47. Dengan kata lain, fenomena yang terjadi adalah 'pertumbuhan dengan kesenjangan yang melebar.'
Menggunakan teknik dekomposisi atas indeks Theil, fenomena ini lebih disebabkan oleh kesenjangan antarnegara (between country inequality) yang makin lebar. Sebagai ilustrasi sederhana, perbedaan taraf hidup seorang buruh di Nepal dan eksekutif di Korea makin besar. Ini bisa terjadi karena dua hal: 1) kesenjangan taraf hidup rata-rata di Korea menjadi jauh lebih baik dibandingkan Nepal dalam periode yang bersangkutan, dan 2) kesenjangan taraf hidup antara buruh dan eksekutif di Nepal dan Korea makin lebar.
Bagi beberapa orang, saya yakin fakta ini bisa menjadi dasar untuk mengritik ide-ide seputar globalisasi, ekonomi pasar dan pertumbuhan ekonomi. Tapi sebaiknya kita lebih hati-hati dalam meninterpretasikan temuan ini, karena the devil is in detail -- ada hal-hal detail yang ternyata kompleks dan tidak sesederhana itu untuk diterjemahkan.
Dalam satu aspek, fenomena melebarnya between country inequality berarti tidak terjadinya konvergensi pertumbuhan. Sejumlah negara yang taraf hidupnya rendah tidak berhasil mengejar ketertinggalannya dengan yang lain. Apakah mereka ini yang secara tradisional lebih terbuka dan berorientasi ekonomi pasar? Saya kira tidak.
Di aspek lain, meski dinamika dalam between country inequality lebih menjelaskan perubahan indeks Theil antara 1993-2003, porsi within country inequality dalam menjelaskan besarnya indeks Theil dalam satu periode tetap lebih besar. Di
tahun 1993, within country inequality menjelaskan 90% dari indeks Theil. Di tahun 2003, meski turun, ia masih menjelaskan 72% kesenjangan. Dan ada indikasi bahwa angka within country inequality juga memburuk, meski hanya sedikit, dari 0.32 menjadi 0.34.
Artinya, tetap menarik untuk melihat apa saja yang menjadi faktor penyebab melebarnya (atau tetap lebarnya) kesenjangan di suatu negara.
- Return on tertiary education yang jauh lebih tinggi dari return on lower education levels.
- 'Kue' ekonomi yang tidak tersebar merata, lebih berat ke sektor modern dan perkotaan (fenomena Cina).
- Terkait hal di atas, belum meratanya penguasaan teknologi , menyebabkan mereka yang punya akses pada sektor modern dan technology-oriented lebih diuntungkan.
Meski demikian, determinan dari melebarnya kesenjangan juga disebabkan oleh beberapa hal berikut:
- Menurunnya investasi publik di bidang infrastruktur pedesaan.
- Makin tidak meratanya akses pada kesehatan, pendidikan.
- Di beberapa negara, kesenjangan juga erat kaitannya dengan ras dan gender
Untuk membuat cerita makin kompleks, laporan itu juga menunjukkan tingkat pertumbuhan pengeluaran per kapita berdasarkan kelompok pendapatan di beberapa negara. Di Cina, rata-rata pendapatan di kelompok 20% terkaya meningkat 7% antara 1993-2004, sementara kelompok 20% termiskin hanya mengalami kenaikan pendapatan sebesar 3.4%.Bandingkan dengan India. Kelompok terkayanya mengalami kenaikan pendapatan hanya 2%, sementara kelompok termiskinnya kurang dari 1% (lihat gambar di bawah) .
Ketimpangan di Cina jelas jauh lebih buruk dibandingkan India. Tapi penduduk termiskin di Cina mengalami perbaikan taraf hidup absolut lebih cepat. Mana yang lebih baik? Lagi-lagi, tergantung dari standar filosofi moral yang anda anut.
Powered by ScribeFire.

No comments:
Post a Comment